Kejadian umum yang sebenarnya bersifat positif ini sudah dipersalahgunakan. Ya..saya yg sama-sama anggota paskib ikut Prihatin jg...
Menurut dokumen pengakuan korban yang didapat VIVAnews.com, setelah sarapan para calon Paskibraka dibawa ke Cibubur menggunakan bus dengan mata ditutup handuk. Barang milik peserta seperti telepon genggam dan dompet dikumpulkan senior.
Sementara itu, barang-barang di luar yang diperintahkan dibawa oleh panitia, seperti makanan kecil, dikumpulkan lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Ternyata, makanan kecil itu pun tak pernah dikembalikan ke pemiliknya semula, dan belakangan diketahui habis dimakan para panitia.
Yang paling celaka adalah setiap waktu mandi sore. Di dalam barak, dengan pintu utama dalam keadaan tertutup, semua peserta wanita diperintahkan senior mereka--yang juga perempuan--berbaris berhadap-hadapan. Dalam hitungan ke-10, mereka lalu disuruh membuka seluruh pakaian mereka hingga telanjang bulat. Dalam keadaan tanpa busana, mereka diperintahkan masuk kamar mandi untuk membilas tubuh.
Setelah itu, masih dalam keadaan tanpa busana, mereka diperintahkan berbaris di depan pintu kamar mandi sambil menadahkan tangan untuk menerima syampo dan sabun. Habis mandi, mereka masih diminta berbaris telanjang di depan pintu kamar mandi untuk mengeringkan badan. Handuk lalu dikumpulkan lagi, dan mereka diperintahkan masuk berbaris dengan sikap sempurna ke kamar tidur, juga dalam keadaan telanjang bulat.
Tak cuma itu, mereka juga mengaku pernah menjalani hukuman seperti jalan jongkok dalam keadaan tanpa busana.
Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Hadi Supeno pelecehan itu memang benar terjadi. Karena itu KPAI mendesak Disorda untuk bertanggungjawab penuh dan menyampaikan permintaan maaf kepada korban dan masyarakat.
"Kejadian itu berlangsung hingga delapan kali sejak hari pertama hingga 6 Juli 2010," ujar Hadi. "Gubernur Fauzi Bowo harus tegas."
Saat dimintai keterangan KPAI, Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta Saeffulah mengaku kecolongan atas kejadian ini.
Informasi pelecehan itu beredar setelah para orangtua korban mengadu ke KPAI dan membongkarnya di hadapan publik. Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polda Metro Jaya juga telah memintai keterangan korban dan segera memanggil Disorda terkait kejadian ini.

http://metro.vivanews.com/news/read/...s-tanpa-busana
Anggota Paskibraka Diminta Push Up Bertumpuk
VIVAnews - Pengakuan kekerasan pada pelaksanaan pelatihan Paskibrakan DKI Jakarta angkatan 2010 juga disampaikan korban putra.
Dalam dokumen pengakuan para korban yang didapatkan VIVAnews, setelah lolos seleksi, seluruh calon anggota putra Paskibraka DKI Jakarta, dikumpulkan di GOR Soemantri Brodjonegoro, Kuningan, Jakarta Selatan, pada 3 Juli 2010.
Peserta kemudian dikumpulkan di kantor institusi pemerintah dekat GOR Someantri untuk sarapan. Kemudian seluruh barang bawaan mereka dikumpulkan senior.
Seluruh peserta kemudian dibawa ke Cibubur menggunakan bus dengan mata tertutup dengan menggunakan handuk.
Setelah tiba, peserta langsung mendapat sambutan dengan perintah jalan jongkok sebagai tradisi selamat datang. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan tensi.
Mereka kemudian diminta untuk push up dan baru dapat berhenti setelah menetes 20 keringat. Kejadian ini berlanjut dengan gulingan, jungkir balik, dan merangkak di lapangan rumput.
Pada sekitar pukul 14.00-15.00 WIB, calon Paskibraka putra diminta untuk membuka seluruh pakaian mereka. Mereka kemudian dikumpulkan dan berbaris di depan pintu kamar mandi.
Di sela-sela mereka mandi, sejumlah senior memerintahkan mereka untuk melakukan push-up dingin. Ini dilakukan dalam keadaan tanpa busana dan bertumpuk hingga empat orang, sambil disirami air.
"Ini dia yang namanya push up dingin, enak nggak," ujar korban menirukan ucapan senior mereka.
Pada hari kedua dan ketiga pada saat mandi siang dan sore kejadian serupa tetap terjadi. Para peserta selalu menuju ke kamar mandi dalam keadaan tanpa busana.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Hadi Supeno, memastikan kesaksian ini memang benar adanya. Keterangan ini disampaikan orangtua korban kepada KPAI. Karena itu KPAI mendesak Dinas Olah Raga Daerah DKI Jakarta untuk bertanggungjawab dan meminta maaf. (adi)
http://metro.vivanews.com/news/read/...h-up-bertumpuk
Pelecehan Paskibraka Sejak Tahun 1991
VIVAnews - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) minta Dinas Olahraga dan Pemuda DKI Jakarta mengevaluasi dan melakuan koreksi terhadap petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis orientasi Kepaskibraan yang dikeluarkan Purna Paskibra Indonesia (PPI) DKI Jakarta.
Sesuai dengan juklak dan juknis pada bab V poin VI mengenai sanksi, pelatih diperbolehkan memberikan sanksi dengan mengadakan kontak fisik langsung kepada peserta yang tidak menyebabkan luka dan bekas.
Pelatih juga boleh menampar muka bukan kepala tapi tidak dengan hantaman keras. Menampar bukan memukul dengan menggenggam dan bukan dada bagian depan atau perut ke bawah.
"Ini sangat disesalkan, juklak dan juknis dibuat sejak 1991, sudah 19 tahun, tidak ada revisi apapun selama itu. Ini terjadi sudah sejak tahun itu," ujar Ketua KPAI, Hadi Supeno, Kamis 23 September 2010.
Dijelaskan Hadi, terkait hal ini Disorda dianggap lalai dan tidak melakukan pengawasan. Kepada KPAI, Disorda telah mengakui kalau pihaknya merasa kecolongan.
Selama pelaksanaan pelatihan, kekerasan terhadap anggota Paskibrakan angkatan 2010 telah terjadi sebanyak delapan kali.
Kini KPAI masih menunggu penjelasan tertulis dari Disorda mengenai kronologi kejadian kekerasan dan pelecehan seksual itu. "Diharapkan dalam satu pekan ini sudah selesai," ujar Hadi.
Sementar itu, Disorda diminta segera menyampaikan permintaan maaf kepada orang tua dan masyarakat mengenai kejadian ini, agar persoalan ini dapat segera diselesaikan.
"Minta maaf dan selesaikan secara tuntas. Jelaskan kepada publik supaya jelas. Agar calon anggota tidak takut, dan orangtua yakin kasus ini selesai." tutup Hadi.
Kasus pelecehan seks dan kekerasan di Paskibraka mencuat setelah orangtua korban melapor ke Polda Metro Jaya. Sejauh ini polisi telah meminta keterangan para korban.

ayo bongkar kasus ini sebelum menjadi seperti kasus IPDN!...Kita semua dukung PASKIBRA yang bersih, yang tanpa kekerasan!!!
Ke Menu Utama >>
Posted by
Unknown
| Wednesday, November 3, 2010 |
1 comments
Categories:
Kecacatan Lokal




setuju bgt , buat pandangan paskibra itu tegas bukan kekerasan , kalau ada kasus kaya begini kan dampaknya ke paskibra sekoalah.